News Update :

Meja Telepon Ibu : Sebuah Saksi Perjalanan Meraih Mimpi Mahasiswi Teknik Nuklir UGM

Selasa, 09 April 2013

Meja Telepon Ibu

Siti Horiah 
Mahasiswa Program Studi Teknik Nuklir 2012

Disudut ruang tamu kami, yang luasnya tidak lebih dari 4m2 itu terletak sebuah meja kecil berwarna hitam. Meja itu adalah sebuah meja telepon rumah yang sudah beralih fungsi sebagai meja belajarku. Meja itu adalah satu-satunya meja yang ada di rumah kami, meja yang sampai saat ini masih dibiarkan ibuku tetap berdiri tegak dan masih tetap berada dirumah kami dengan sebuah alasan yang tak aku ketahui.

Beginilah kondisi rumah kami setelah peristiwa kebangkrutan usaha ayahku. Demi menyambung nyawa keluarga kami, ibu rela menjual barang-barang berharga yanga ada di rumah kami pada tetangga sekitar. Ibuku tidak tahu lagi harus berbuat apa, dan tidak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membeli beras. Beliau menjual satu persatu barang-barang berharga kami, setiap kali datang waktu makan. Mulai dari beberapa pakaian ibuku yang paling beliau suka, alat-alat dapur seperti gelas, piring, panci, dispenser, bahkan sendok dan garpu pun ikut habis terjual.

Ayahku tidak dapat berbuat banyak setelah peristiwa kebangkrutan usahanya. Beliau hanya mampu menjadi kuli dipasar tradisional di kota kami. Upah yang dia terima tidak mampu menutupi kebutuhan keluarga besar kami.

***
Suatu siang, aku melihat adikku Rafi menangis sambil menghampiri ibu yang sedang duduk lemas menonton tv tanpa antena itu. Aku memperhatikan gerak-gerik ibu yang kepanikan, beliau tidak ingin membiarkan Rafi adikku menangis terlalu lama.

“ibu, ibu aku lapar!” jerit Rafi.

Ibu yang tak bisa berkata apa-apa langsung pergi menuju dapur, mengambil beberapa piring. Aku pun terus memperhatikan gerak-gerik ibu. Aku heran apa yang akan ibu lakukan dengan kelima buah piring itu. Sempat aku berpikir kalau ibu akan mengambilkan nasi untuk Rafi, namun aku teringat kalau dari kemarin aku belum memasak nasi untuk keluarga kami. Dengan masih tetap memperhatikannya dari balik pintu, aku melihat air mata ibuku jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat, namun dengan cepat beliau langsung menghapusnya takut-takut kalau air matanya akan terlihat olehku. Aku pura-pura tidak sadar dengan apa yang ibu lakukan didapur, aku menyibukan diriku dengan menggendong dan menimang Rafi agar dia tidak menangis.

Kubiarkan ibu dengan kesibukannya, kulihat beliau keluar rumah dengan kelima piringnya itu. Tak beberapa lama kemudian beliau kembali dengan uang ribuan yang lusuh sebanyak lima lembar. Aku terheran-heran atas apa yang ibu lakukan. Ibu langsung menyuruhku pergi kewarung membeli setengah liter beras, dan satu butir telur. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung pergi menuruti perintah ibu.

Aku kembali dengan apa yang ibu minta dan ibu langsung menyuruhku memasaknya. Ibu menyuruhku membuat telur dadar dengan mencampurkan telur itu dengan terigu, agar satu telur itu menjadi besar dan cukup untuk dimakan oleh kami bersembilan. Aku menarik napas dalam-dalam, air mataku pun tak kuat dibendung, menetes jatuh. Aku tak kuat menahan ini semua, bagaimana tidak, setiap harinya kami hanya makan satu kali sehari. Berbagi setengah liter nasi untuk sembilan orang, satu butir telur saja harus dibagi sembilan, sering kamipun membagi 2 bungkus mie instans untuk sembilan orang. Terkadang ayah memilih pergi dari rumah saat tiba waktu makan, beliau pergi sambil menitip pesan padaku agar jatah makanannya diberikan pada adik-adikku saja.

Ibu sangat sayang pada kami, beliau tidak pernah membagi penderitaanya pada kami semua. Selagi ayah menjadi kuli dipasar, ibu selalu menggantikan peran ayah. Ibu tak pernah terlihat sedih dengan penderitaanya. Ibu rela berkorban demi kami semua. Ibu rela menjual tempat tidurnya dan memilih tidur dilantai dengan beralaskan kasur yang tipis saja.

Hampir seluruh barang berharga dirumah kami terpaksa beliau jual, demi menutupi pendapatan ayah yang besarnya tak kurang dari sepuluh ribu rupiah. Hanya satu buah meja telepon yang ibu sisakan diruang tamu kami. Aku heran kenapa ibu tidak pernah mau menjual meja tersebut, beliau lebih memilih menjual beberapa pakaiannya ketimbang menjual meja tersebut. Sampai pada saatnya aku tak sanggup melihat pakaian terbaik ibu harus ikut terjual, akupun menawarkan meja telepon itu untuk dijual pada ibu. Namun ibu menolak dengan kata-kata yang membuatku menangis sendiri.

“Selapar apapun kita nanti, ibu tidak akan menjual tempat yang kau gunakan untuk mengantungkan cita-citamu itu nak, pakailah terus meja itu.” Ungkapnya sambil pergi kerumah tetangga untuk menjual baju terbaiknya selama ini, demi sepiring nasi untuk keenam adikku.

Aku lemas mendengarnya, jadi selama ini ibu tidak mau menjualnya hanya karena aku sering memakai meja yang panjangnya tidak lebih dari 30 cm itu untuk belajar. Aku tersadar selama ini aku memang selalu menggunakan meja itu untuk belajar karena itu adalah satu-satunya meja yang ada dirumah kami.

Itulah kondisi yang selama ini aku alami, tak ada yang bisa aku lakukan banyak ketika itu. Saat itu kondisinya aku sedang duduk dikelas tiga. Ditengah kondisi seperti ini aku harus tetap berjuang untuk bisa lulus SMA. Setiap malam aku bangun untuk belajar dan mengerjakan tugas, aku menggunakan meja telepon itu sebagai alasku belajar. Terbayang betapa menderitanya belajar di atas meja yang luasnya lebih kecil dari luas buku tulisku. Namun tidak ada pilihan lain bagiku, aku tak mampu menunduk lama untuk belajar bila memilih belajar diatas lantai yang dingin. Meja itu adalah teman terbaik bagiku. Dia selalu menemaniku dimalam hari disaat semua orang terlelap, aku harus bangun untuk belajar. Semua itu aku lakukan karena aku tidak memiliki waktu disiang hari untuk belajar.

Benar kata ibuku meja itu adalah tempat aku menggantungkan semua cita-citaku. Tempat aku memulai perubahan pada hidup keluargaku. Ibuku berharap besar padaku, karena aku adalah anak pertama. Jadi setelah aku lulus SMA nanti aku bisa langsung bekerja, dan ibu optimis terhadap diriku kalau aku nanti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena ibu tahu aku termasuk murid yang berprestasi disekolah.

Tanpa disadari aku memang menyayangi meja kecil hitam itu, meja itu selalu aku bersihkan setiap harinya, walaupun meja itu kecil dan sempit tapi aku masih bersyukur bisa tetap menulis diatas meja. Meja itu adalah satu-satunya tempat aku berbagi rahasia, tempat aku mengukir sebuah mimpi. Hanya meja itu yang menjadi saksi kalau aku memiliki sebuah mimpi yang selama ini aku rahasiakan dari dunia.

Aku punya sebuah mimpi yang benar-benar tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun. Aku takut kalau mimpiku yang satu ini kuberitahu pada orang tuaku itu akan menjadi beban padanya, kalau aku beritahu pada teman-teman atau orang banyak aku takut mimpiku yang ini akan ditertawakan mereka. Jadi selama ini hanya meja kecil ini yang bersaksi kalau aku sering mengukir sebuah nama Universitas yang aku impikan pada catatan sekolahku. Ya, mimpiku yang tidak dapat aku beritahukan kepada siapa pun termasuk orang tuaku sendiri adalah duduk di bangku KULIAH.

Sebenarnya setiap kali orang tuaku membahas tentang pekerjaan yang nantinya aku lakoni setelah lulus SMA, hati kecilku menangis merintih tak terdengar siapapun.

“ayah, mama, aku gak mau kerja aku mau kuliah kaya temen-temen, aku mau masuk UGM aku mau ke Jogja, aku gak bisa KERJA!” jerit hati kecil ini.

***

Saat-saat seperti ini semua teman-temanku sibuk mencari tempat bimbel yang terbaik dikota kami, sebagai salah satu persiapan sebelum menghadapi SNMPTN. Bagi seorang Siti Horiah jangankan mengikuti program bimbel, buku paduan SNMPTN saja tak punya. Aku tak pernah memiliki niat untuk membeli buku SNMPTN yang harganya selangit itu. Untuk makan adik-adiku saja setiap subhu aku dan ibu masih harus keliling pasar untuk menjajakan kue cucur buatan ibuku. Bagaimana aku mau menabung, uang jajan yang ibu berikan itu hanya sebesar tiga ribu rupiah saja, itupun hanya cukup untuk ongkos naik angkutan umum. Kalau kue kami tidak terjual satupun itu berarti aku harus berjalan kaki sejauh 3 km untuk sekolah. Aku tak sanggup meminta uang sepeserpun unutuk membeli buku SNMPTN pada ayahku yang menjadi kuli dipasar, apalagi berkata pada ayah kalau aku ingin kuliah ke JOGJA. Sudahlah bagiku kuliah adalah mimpi-mimpi basi seorang siswa SMA kelas 3 seperti aku ini.

Itulah sebabnya aku menyembunyikan mimpi besar hidupku ini dari orang banyak. Bagiku mimpi ini hanya akan menjadi pisau kecil bagi keluarga kami. Mimpi yang akan menusuk dan mengiris perasaan kedua orang tuaku. Tak pernah sekalipun aku berniat untuk mengkhayal menduduki bangku kuliah. Aku takut kalau kedua orang tuaku tahu tentang mimpi ini, mereka pasti akan merasa kalau mereka bukan orang tua yang baik, orang tua yang tidak bisa membahagiakan anak-anaknya. Biarlah mimpiku yang ini hanya aku, meja kecil itu dan Tuhan yang tahu.

***

Sahabatku Ana selalu ada untukku, memberika support. Cita-citanya menjadi dokter membuat aku tersenyum miris sendiri. Aku selalu berpikir kenapa aku tidak seberani dirinya bermimpi dan bercita-cita. Namun aku sadar aku tidak seperti dirinya, aku bukan anak siapa-siapa yang boleh bermimpi setinggi itu. Kalau kata adikku yang pertama “MIMPI ITU MAHAL KAK!” buat bermimpi saja itu sulit apa lagi merealisasikannya pada kenyataan. Sesulit itukah bermimpi pikirku kalau mimpi saja dianalogikan dan disamakan dengan kata mahal. Kata-kata yang membuat keluarga miskin seperti kami gempar mendengarnya. Kata mahal itu bagi kami berarti mustahil dijangkau. Maklumlah, bagi keluarga miskin seperti kami harga sebutir telur naik seratus rupiah pun sudah membuat kepala ayahku sakit.

Saat aku berkunjung kerumah Ana, orang tuanya memberikanku uang sebesar seratus ribu rupiah. Tanganku gemetar menerimanya. Orang tua Ana memberikan uang itu untuk aku gunakan sebagai ongkos pulang kerumah, yang pada kenyataannya ongkos yang aku gunakan hanya empat ribu rupiah. Setelah kuputuskan sisa uang tersebut kuberanikan saja untuk kubelikan sebuah buku SNMPTN bekas dipasar. Agar harganya tidak mahal dan aku dapat memberikan sisa uangnya pada ibuku. Aku sangat senang sekali saat itu, aku berpikir walaupun aku tak ada niat untuk kuliah namun apa salahnya kalau aku juga ikut menimba ilmu seperti teman-temanku.

***

“Kamu mau kuliah?” sahut ayahku didepan ibu dan adik-adiku.

Aku kaget bukan main terhadap pertanyaan itu, dari mana ayah tahu mimpi yang aku sembunyikan dari dunia itu, mimpi yang tidak pernah terucap oleh lidahku sendiri walau dalam doa di sholatku, mimpi yang hanya ikut mengalir bersama air mata sebelum tidurku, mimpi yang bahkan akupun sendiri malu bercerita pada Tuhan. Ternyata ayah menyadari hal itu semua karena buku SNMPTN yang baru aku beli kemarin ku letakan diatas meja kecil hitam itu. Ibuku yang hanya lulusan SD menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan ayah. Ibu marah mendengar hal itu, ibu menyuruhku mengubur mimpi tersebut, ibu takut kalau nantinya aku stress karena mimpiku yang ini tidak akan pernah terwujud. Aku tertunduk menangis, adik-adiku iba melihat kearahku. Ayah menenangkanku tersenyum padaku, ayah berkata padaku agar aku belajar yang baik dan mencari tempat kuliah yang aku inginkan. Ayah berkata kalau beliau akan berusaha mati-matian agar aku bisa kuliah. Aku tersenyum melihat ayah yang bijak berkata seperti itu, entahlah aku sempat berpikir kalau ayah hanya ingin menenangkan diriku saja.

***

Suatu sore saat aku sedang menyapu halaman rumah, seorang ibu yang sebaya dengan ibuku menegurku.

“kamu mau kuliah yah neng?”. Tegurnya sambil tertawa kecil.

Aku kaget dibuatnya, Ibu itu berkata kalau kemarin ibuku bercerita pada dirinya bahwa aku merengek meminta meneruskan sekolah. Ibu itu menasihati diriku, dia berkata padaku kalau kita sebagai orang susah jangan ‘kebanyakan tingkah’, aku sebagi anak pertama jangan menyusahkan kedua orangtua dengan merengek-rengek minta kuliah. Kuliah itu mahal katanya, upah ayahmu itu tidak cukup untuk makan dua kali sehari, apalagi untuk biaya kuliah. Kasihan adikmu ada banyak mau makan apa mereka.

Hatiku bergetar, ingin rasanya aku membentaknya. Namun aku hanya mampu membalas perkataannya dengan senyum termanis yang aku miliki.

Keesokan harinya ibuku bercerita, kalau teman-teman ayahku dipasar itu mengolok-olok ayahku karena ayahku bercerita pada mereka kalau aku ingin kuliah. Mereka berkata pada ayahku kalau tidak akan ada universitas yang mau menerima orang miskin seperti aku ini.

Aku berlari menuju meja kecil hitam di ruang tamuku, ku buka buku catatanku yang pernah kutulisi tulisan grafiti nama sebuah universitas impianku. Kurobek dan kulempar bukunya, aku marah saat itu. Karena orang yang paling aku sayang itu dihina oleh orang lain, dicaci maki. Aku tersadar kalau itu semua karena mimpi ‘konyolku’ berkuliah. Itulah sebabnya selama ini aku malu dan memutuskan untuk menguburkan niat dan impianku berkuliah sedalam-dalamnya. Sudah kukira akan berakhir dengan penghinaan kedua orangtuaku seperti ini. Aku kesal, orang tuaku dihina seperti itu. Aku malu karena itu semua adalah ulah dari mimpi tidur indahku.

***

Keesokan harinya disekolah teman-temanku bersorak dan memanggilku.

“Selamat yah sit, lu masuk daftar undangan SNMPTN tuh!” ucap Lidia

Jantungku bergetar, aku tak percaya kalau namaku bisa masuk dalam jajaran murid-murid pintar yang bisa mengikuti SNMPTN undangan. Aku pun girang bukan main, ku hampiri guru bimbingan konselingku. Aku menceritakan masalah keluargaku selama ini, awalnya aku tak mau bercerita namun karena mimpiku berkuliah saat ini sudah ada di depan pelupuk mata. Maka akupun memutuskan untuk menceritakan semuanya agar aku mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

Guruku itu langsung memeluk tubuhku yang kaku, dia memiliki impian besar terhadap diriku. Dia mencarikan solusi untuk masalahku ini dengan menawarkan beasiswa BIDIKMISI. Tanpa berpikir panjang aku menyetuji ajakannya. Aku pulang kerumah dan menyiapkan berkas-berkas yang ada, saat itu aku merasa bersyukur sekali karena impianku yang kurasa buruk itu akan segera terwujud. Aku sengaja tidak memberitahu informasi ini pada kedua orangtuaku, aku ingin membuat semua ini menjadi kejutan bagi mereka.

Segala macam persyaratan pendaftaran SNMPTN itu pun telah dipenuhi, aku memutuskan untuk memilih UNIVERSITAS GADJAH MADA dan prodi TEKNIK NUKLIR pada pilihan pertama. Entahlah dengan hanya bermodal menyukai kimia dan fisika. Maka aku putuskan untuk memilih program studi ini. Besar harapanku untuk diterima. Setelah semuanya selesai , baru ku beritahu ayah dan mama. Mereka sangat senang karena beasiswa Bidik Misi ini mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang sampai aku lulus nanti. Kedua orang tuaku pun senang dengan pilihan program studi yang aku pilih itu. Semuanya tinggal ku pasrahkan pada Tuhan. Kalau memang rezeki aku pasti akan mendaptkannya pesan ayah padaku yang selalu ku ingat.Aku senang dan aku ingin membuktikan pada semua orang yang telah menghina mimpiku.Aku ingin membuktikan kalau impianku ini akan segera terwujud.

***

Dua bulan lamanya aku menunggu pengumuman, selama itu aku mempersiapkan diriku untuk bisa mengikuti SNMPTN tulis, aku belajar sedikit demi sedikit dari buku soal-soal SNMPTN yang aku miliki. Semangatku berkuliah setiap harinya semakin kencang. Ditengah-tengah semangatku ini, masih saja ada tetangga yang mengolok-olok mimpiku. Ada tetangga yang berkata pada ibuku seperti ini.

“Hati-hati bu, itu anaknya bukan mau kuliah tapi mau jual diri.” Ucapnya sinis
Ingin rasanya aku menampar orang yang berbicara seperti itu pada ibuku, tapi ibuku menyadarkanku kalau ucapan mereka adalah batu loncatan bagi prestasiku. Aku harus tetap rajin belajar dan membuktikan pada dunia kalau mimpiku itu akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

***

Semua hinaan, cacian maki tetangga-tetangga sampai saudara-saudara terdekat kami kemarin terhadap mimpi besarku, kini lenyap sudah. Air mata kedua orang tuaku kini warnanya berubah sebening permata, keringatnya yang bercucuran itu menjadi keringat kebanggaan mereka terhadapku, simpulan senyum guru-guruku mengguratkan harapan besar padaku. Ya, aku diterima di Universitas kerakyatan yang menjadi kebanggaan negara ini. Universitas bergengsi dan nomor satu terbaik di Negri ini. Gadjah Mada namanya, di sana namaku tertera di Teknik Nuklir. Program studi sarjana Nuklir satu-satunya di ASEAN dan memiliki lulusan terbaik se-Asia.

Aku tak bisa berkata apa-apa, melihat kebahagiaan kedua orang tuaku. Melihat mimpiku yang kini menjadi nyata, mimpi yang tak pernah berani aku ungkapkan pada dunia. Mimpi yang tak seharusnya aku tutupi dari orang lain. Sekarang aku sadar kalau semua itu memang berasal dari mimpi. Mimpi yang bukan hanya sekedar mimpi, mimpi yang harus segera diwujudkan, bukan dibiarkan tetap tidur bersama angan-angan semata. Aku pun tersadar sekarang kalau tak ada satupun hal yang mustahil dalam hidup ini, aku masih memiliki Allah. Tuhanku yang tak pernah tidur, yang selalu mau mendengarkan mimpi kecil kita. Aku tak akan menyia-nyiakan amanat besarmu ini Tuhan. Aku tersenyum mengingat semua pengorbanan aku dan kedua orangtuaku demi mimpi manis ini kemarin. Terimakasih meja kecilku yang setia menemaniku merogoh mimpi ini. Terimakasih Tuhan mengijinkanku merajut asa ini untuk meraih impian.


sumber:

http://tf.ugm.ac.id/index.php/14-prestasi/112-mahasiswa-teknik-fisika-ft-ugm-memenangi-lomba-menulis-kisah-inspiratif-kamakarya-2013
Share this Article on :

153 komentar:

Eliza Indah K mengatakan...

semangat terus :) semoga sukses sampai di akhirat nanti :')

Muhammad Iqbal Muharram Ruhyanto mengatakan...

baarakallaahu fii 'uluumik.. :')

Ceisar Maulana Shabirin mengatakan...

semangat :)

fikrialayubi mengatakan...

semoga berhasil ya kak :D

DIRGA01 mengatakan...

Subhanallah...
memang kekayaan dan kebesaran itu adanya cuma disini (hati)

suci wulandari mengatakan...

Subhanaalloh,,

ikut menangiisss jadinya .. :( :'(

raldicka primananda mengatakan...

semangat semangat :)

LARAS SATY mengatakan...

josh banget..
(josh mengeluarkan air mata gw ini namanya) :')

selamat..... selamat sekali lagi (^,^)9

Markhatin Nurul Latifah mengatakan...

Subhanallah.. jadi menangis terharu di Jumat Pagi membaca ini.. selamat telah menjadi inspirasi mba, terus berkarya dan tetap semangat :D

Solehan Hans mengatakan...

sukses terus mbak...

ardhy27 mengatakan...

tetap semangat.... :)

perjuangan yang sebenar nya baru d mulai... ^0^

salam dari gedung prodi sebelah ;)

Dian Fernanda mengatakan...

Subhanallah..

allah selalu mendengar pinta umatNya :)

Zan Zan mengatakan...

Tetep semangat, smoga sukses dunia akhirat ya. amin

noranoo mengatakan...

Selamat untuk Siti Horiah, tingkatkan prestasinya!
Bidikmisi memang berhasil memasilitasi teman-teman seperti Siti. Di masa saya SMA, belum ada program beasiswa bidikmisi ini.

eggy galih mengatakan...

subhanallah kisah yg sangat inspiratif. membuatku termotifasi untuk mewujudkan mimpi"ku..AAMIIN

asterina wulan sari mengatakan...

goodluck, semoga tercapai segala keinginanmu :)

Ari Tirta Mandiri mengatakan...

Alloh MAHA BESAR dengan segala Nikmat NYA..

rifa nailufar mengatakan...

siti :) take care ya :) siti memang hebat!! :)

Yusuf Aji Wibowo mengatakan...

Luar Biasa,
salam Bidik Misi kawan :)

leauxities mengatakan...

Subhanallah,
Selamat Siti, semoga sukses dan semua harapanmu terwujud. Aamiin

Asep Hidayat mengatakan...

dari senyumnya saja tergambar jelas betapa optimis dan bermental baja puteri Indonesia ini.. Aku bangga (Y)

rizqa afthoni mengatakan...

:) smoga banyak anak2 di negeri ini berani mewujudkan mimpinya.. apapun itu keadaanya

ramadhaniLJ mengatakan...

Barakallah ...
semoga sukses dengan a[a yang dicita-cita kan

Muhammad Fachrurrozi mengatakan...

smoga sukses y.. ALLAh punya skenario yg indah utk org2 yg bersabar... critamu membuatku tambah bersyukur kpd-Nya..:)

Lukman Anugrah mengatakan...

membaca tulisan ini, saya malu dengan diri saya sendiri. saya lulusan baru dari fakultas perikanan undip. saya memilih jurusan itu karena saya memang suka hewan air dan saya suka biologi.saya malu karena saya tidak sekuat anda dan saya kurang bersyukur. saya dengan mudah bs kuliah, tanpa perjuangan keras seperti anda, karena saya orang berada. namun selama saya kuliah saya sering mengeluh ke orang tua saya dan sering marah marah ke ortu saya karena orang lain selalu menyepelekan jurusan kuliah saya... sehingga saya sama sekali tidak semangat belajar selama kuliah. tapi alhamdulillah Allah masih menyayangi saya sehingga saya bs lulus kuliah dengan nilai yang tidak buruk. terima kasih anda mengingatkan saya kalo kita harus selalu bekerja keras dan selalu bersyukur.

Muhammad Akhsin Muflikhun mengatakan...

Masyaallah..menggantung air dipelupuk mata membaca kisah ini..Ya Allah..berilah keberkahan, kebahagiaan dan kesehatan kepada keluarga besar penulis muda ini..

saeful arafat mengatakan...

luar biasa de siti ini
cerita saya kurang lebih seperti mas Lukman Anugrah
saya kurang bersyukur
astaghfirulloh
untuk de siti semoga cita2 anda tercapai
aamiin

Made Angga P mengatakan...

baca tulisannya berasa lagi ngupas bawang. perih. semoga sukses ya dan bisa merubah kondisi ekonomi di rumah. semangat!:)

Edi Kusumawati mengatakan...

kerenn...salut pd keuletannya..mudah2an mimpi2mu selanjutnya dpt terwujud ya dik siti..aamiin yra..

Phi Design mengatakan...

Subhanallah,
moga berhasil dek,,
ceritamu ini sangat menginspirasi buat semua orang,
sukses dan terus melangkah menggapai impian tertinggimu :)

Handoyo Sahumena mengatakan...

aku tak kuasa menahan air mata ini membaca kisahmu dek.
Subhanallah...
maha suci Allah dengan segala kebesaranNya.

oesoekoe mengatakan...

Subhanallah, jayalah para pemimpi. bermimpilah kembali, lebih BESAR lagi dan Terus SEMANGAT

syamsul wahyu mengatakan...

aq 11-12 dengannya...kuliah d t4 yang sama juga dngn jurusan berbeda....skrng aq dah lulus dan bekerja d salah satu instansi pemerintah...semangat lah dan tetap istiqomah... :-)

Faiz-All Rachman mengatakan...

Sangat Inspiratif sekali. Seakan menampar saya yang kurang menghargai apa yang telah saya dapatkan. Semoga Sukses Kawan!

kerja_kejar mengatakan...

ga bisa ucap apa-apa.. cuman bisa malu sendiri..

makasih buat Siti Horiah yang dah ingetin saya betapa hina diri saya.. saya memang sudah kuliah di jurusan yang masa depannya bisa dianggap cemerlang, dan saya juga sangat berhutang kepada kedua orang tua saya akan hal ini.. namun saya juga sering mengeluh tentang pilihan universitas yang saya ambil.. setelah baca ini saya beranggapan (lingkungan dimana kita berada tidak 100% membentuk diri kita) keteguhan hati dan keyakinan dirilah yang paling penting..

sekali terima kasih.

Muh Arfan mengatakan...

Subhanallah...
Cerita dan Kisahnya sangat Mengispirasi,
Semoga sukses selalu yah..

roaliezze mengatakan...

Bersyukur dengan satu meja.. subhanallah.. (y)

attien... mengatakan...

terimakasih atas ceritanya.
membuat kami harus membuang malas dan segera bermimpi lagi

catatanemak mengatakan...

Semangat Dek Siti...Barakallah...semoga sukses dunia akhirat

Karna Wijaya mengatakan...

Pertama saya ucapkan selamat bergabung dg UGM, luar biasa sekali prestasi dan perjuangan anda, semoga Allah meridhai perjuangan anda, amin. Jika anda memerlukan bantuan buku, literatur terkait dengan bidang adik
silahkan hubungi saya, kebetulan saya mengajar topik Kimia Nuklir dan Radiokimia
Barangkali beberapa ada yg match dg bidang adik, namun saya tetap terbuka
utk kebutuhan akadmik anda yg lain.

Salam :
Prof.Dr.Karna Wijaya,M.Eng
Jurusan Kimia, FMIPA UGM, SKIP UTARA, Yogyakarta 55281
Telp/fax:0274-545188
email:karna_ugm@yahoo.com
karnawijaya@ugm.ac.id

Joko Purwanto mengatakan...

alhamdullillah. Allah telah memudahkan jalannya. tetaplah bersyukur dan iklas, dan jangan terlena. banyak orang yg lulus ujian dikala susah, namun banyak juga orang yang tidak lulus ujian dikala kesenenangan dan kesuksesan sdh ditangan.

Irma Usu mengatakan...

subahanallah sekali... semoga apa yg kamu cita-citakan di kabulkan oleh Allah Swt (amin) :) tetap semangat......
salam loyalitas tanpa batas_ teman.

Taufikur Rahman mengatakan...

apabila masih ada kesulitan dana bisa hub RZIS UGM di Masjid Kampus UGM, bisa di cek juga di website www.rzis.ugm.ac.id

Novina mengatakan...

Ya ALLAH .. bikin MERINDIIIING bacanya :'(

ekobudiarta mengatakan...

Semangat ukhti....
Barangsiapa bertawakal pada Alloh, maka Allohlah yang akan menanggungnya..

waddySLAP whatver mengatakan...

I'm Spechless.. tak tahu harus bilang apa lagi..hiks

Rozanah Ahlam Fadiyah mengatakan...

Subhanawllah, subhanawllah, akhirnya tetes air mata ini pun turun .... semangat kawan :)

Anif Wahyudiyanto mengatakan...

allahu akbar.
cerita sangat inspiratif dan menyentuh.

amirabahrain mengatakan...

siti rohiah adikku sayang..Impianmu hanya 5 cm didepan matamu, tetap berjuang dan raih semua mimpi2 mu karena saat dirimu berusaha menggapainya, magnet di seluruh bumi akan mendekat kepadamu tanpa dirimu sadari sama sekali dan semua impianmu akan terwujud tanpa terkecuali, tetap berjuang ya adikku sayang......God Love all of Us!

Habib Geo mengatakan...

semnagat....
kebanggaan orang tua adalah kebagian yang tak terbatas....
semoga sukses menyertaimu.....
amiin...

kermit mengatakan...

INDONESIA SANGAT MEMERLU KAN SOSOK SEPERTIMU

ANTON CAHYONO mengatakan...

hingga Detik inipun tuhan selalu menjadi misteri bagiku,,, tak pernah ku tau apa yg akan terjadi hari ini,besok, lusa,minggu dpan, bulan depan atau sampaiku menutup mata.....
#semangat buat kakak,,, tuhan selalu ada untuk melihat kita...

komunitas90an mengatakan...

Pas saya kuliah di UGM, saya sudah tidak memiliki Ibu, Ayah saya sakit2an, ayah saya hanya memberi modal hidup Rp 500rb, lalu selanjutnya di bulan2 berikutnya..cari sendiri..namun Alhamdulillah, selama kuliah di UGM, saya punya 7 prestasi nasional di bidang IT, Marketing strategy & bisnis, mbak ini masih beruntung, masih punya ke dua orangtua..karena di tengah2 kuliah, ayah saya meninggal...

Achmad Wildan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
putri machfudz mengatakan...

Allah tahu apa yang tidak terucapkan,apa yang hanya terbersit di fikiran umatnya, Subhanallah, Maha Mengetahui Allah SWT :'(

Unknown mengatakan...

Semangat juang yang pantang menyerah...

Jon Reker mengatakan...

terima kasih telah menginspirasi dunia ini

sus darminasari mengatakan...

subhanallah.. Kisah yang sangat menginspirasi..
Smangat mba, semoga segala cita2 mba tercapai, aamiin..

indri fahrul sidiq mengatakan...

Kisahnya dapat menghilangkan penyakit malas yang terus menghantui..

Alfath Bagus Panuntun El Nur mengatakan...

sungguh menginspirasi.
aku terharu bacanya :)

Elmira Triyusra mengatakan...

Smoga mimpi itu kelak tidak melupakanmu pada riwayat ini. Moga selalu dalam lindungan Allah swt. amin..

Miranda Syevira mengatakan...

Selamat dek.

Kamu hebat. Mimpimu hebat. orangtuamu hebat. Kamu layak ada di kampus ini. Yang miris adalah, omong-omong tentang Bidik Misi, ada seorang penerima beasiswa Bidik Misi yang dengan antengnya berkata pada adikku: "Yes! Berarti aku bisa kredit mobil!".

Adikku mendidih marah dan mengadu kepadaku. Kami pembenci ketidakadilan, sakit memang. Ada banyak korban, dek. Korban dari sistem dan para penerima beasiswa yang menggunakannya untuk kredit mobil dan laptop baru. Tetapi, membaca ceritamu, kami semakin yakin Tuhan tidak pernah tidur. Semoga semakin banyak anak muda seperti kamu :)

Fach Ranii mengatakan...

Kamu Hebaatt :)

Tetap semangat yaaaa :)

Syamsoe La Tahzan mengatakan...

kisah2 nyata yg inspiratif spt ini yg mestinya dibuat sinetronnya & ditayangkan disemua TV Swasta Nasional biar jadi suri tauladan bagi kita semua. Bukan Sinetron yg isinya cumak pacar-pacaran melulu & seolah2 hidup didunia ini mudah tanpa perjuangan.

Anang Shikamaru mengatakan...

Hampi menangis ane bacanya..kirain cerita2 seperti itu hanya ada di film..terima kasih sudah remind ke saya, saya termasuk orang yang kurang bisa bersyukur..semoga sukses ya dan kalau sudah sukses manfaatkan di jalan Allah SWT

Siswaya mengatakan...

Luar biasa...semoga selalu dikuatkan. Percayalah bahwa "Gusti Allah mboten sare" (Allah tidak tidur). Tak kuat juga untuk terus menahan air mata ini ketika membaca kisah Siti, walaupun tidak sedramatis keluarga Siti, saya juga mengalami perasaan yang sama ketika menjelang kelulusan sma dulu. Tetep istiqomah.

Sri Minuty mengatakan...

merinding bacanya
keep spirit ukh ! barakallah

dina karsono mengatakan...

Selamat ya dek..SEMANGAT TERUS..raihlah cita-citamu setinggi langit,karena jika terjatuhpun kau kan tetap berada diantara bintang-bintang..selamat berjuang!

Krisna Dharmayanti mengatakan...

Barokallah Mbak Siti :)
Smangat membuat orang lain bersyukur karena telah memiliki kesempatan untuk mengenak Mbak.

Unknown mengatakan...

semoga sukses selalu, tunjukkan bahwa pendidikan dapat memutus rantai kemiskinan, selamat berjuang ^^

mulyo jog mengatakan...

Subhanallah

aning muzzandy mengatakan...

Subhanallah,,,,, Terharu dan Begitu bahagia Semoga akan lahir dan banyak lagi adik2 dinegri ini seperti adik siti.Yg begitu Antusias dan bersungguh2 dlm meraih impiannya.
Semangat dan sukses selalu dik Siti.

Anis Fuadi mengatakan...

Allah Maha Pengatur..

areski avicenna mengatakan...

semangat

ajat sudrajat mengatakan...

subhaanallah,, tetap semangat dan optimis dik Siti Horiah

Mohamad Gita mengatakan...

MashaAllah..luar biasa semangatnya. Kuliah yang rajin ya dan selalu semangat untuk mencapai cita-citamu.

Yopi Winanto mengatakan...

mengagumkan

gunungargo mengatakan...

Benar - benar memotivasi sekali.
selama ini aku selalu beranggapan, pendidikan sangat mudah sekali untuk dicapai. aku tidak pernah sadar berapa banyak orang di luar sana yang menginginkan bantu kuliah, tapi tidak pernah tercapai.

Terima kasih, semoga makin semangat untuk mengerjakan riset.

PASARPULSA mengatakan...

Sekedar berbagi pengalaman. Langkah mahasiswi di atas tepat. Jangan menyerah hanya karena faktor ekonomi untuk kuliah. Biasanya, kalau kita sudah masuk kuliah, beasiswa bagi mahasiswa berprestasi namun kurang mampu banyak tersedia. Aku dulu mirip dgn Mbak mahasiswi di atas, aku hanya seorang anak tukang becak di Jogja, aku pingin kuliah, dan akupun berhasil lolos UMPTN thn 1999 di salah satu PTN di Jogja, namun mental aku tak sekuat Mbak di atas, aku melihat biaya yg tinggi, aku akhirnya memilih mundur dan memilih bekerja. Seharusnya seperti Mbak di atas, jalani dulu dan berusaha. Hikmahnya. JANGANLAH KALAH SEBELUM BERPERANG.

SoniVN mengatakan...

semangat selalu ya. BERGETAR HATI ini baca ceritanya

Hundee Nice mengatakan...

saya salut kpd Dik Siti Horiah ini.
utk Prof. Karna, mungkin bisa langsung ke sini aja Pak penawarannya, insya Alloh ini valid. Profil dr Siti Horiah di Facebook http://www.facebook.com/siti.horiah.1

Rumah Sakina | Inspirasi Wanita mengatakan...

subhana Allah, merinding... tempaan keras benar-benar menjadikan intan berlian

Ady X mengatakan...

Masya Allah.. air mata ni smpe menetes terharu baca kisah anda

ELPIGA mengatakan...

Dibalik kesusahan ada kebahagian seperti sisi uang logam

Ramadhanu mengatakan...

Luar biasa. Sangat menginspirasi. Terus maju dan jangan menyerah.

BEBAS LEPAS TERBANG SEPERTI ELANG mengatakan...

terharu mendengar ceritanya,,, selamat berkarya saudaraku,,, tunjukkan pada dunia bahwa kamu bukan hanya seorang siti horiah, tapi kamulah siti horiah yang mampu mengubah dunia kyayalan menjadi dunia kenyataan. siti horiah yang mampu membuktikan cemooh orang lian menjadi omong kosong, selamat berjuang saudaraku. subhanallah walhamdulillah wala ila ha illa allahu

Tuti Alawiyah mengatakan...

Subhanallah,,,saya baca sampai tak terbendung air mata ini terus mengalir,, tanpa henti, jadi ingat 18 tahun yang lalu percis seperti nasib saya,,,,saya merasa bersyukur bisa kuliah di IKIP Jakarta, padahal sebenarnya saya di IPB juga di terima dengan PMDK kala itu, tapi bayaran IKIP kala itu lebih murah akhirnya saya pilih IKIP.tapi saya sudah merasa bersyukur, karena cita2 nya wktu itu hanya pingin kuliah dimana pun tidak madsalah, karena aku merasa hanya sekedar mimpi....tapi rupanya mimpi itu menjadi knyataan walaupun saya hanya bisa sekedar jadi guru dan sekarang S2 di UNJ....lanjutkan mimpi Nak..?? sesuatu itu awalnya dari mimpi dan niat insya allah mimpi itu akan menjadi kenyataan,,,terus berdoa dan usaha...semangat yaaa??

Yuleni Maslinah mengatakan...

Siti hatur nuhun buat kisahnya yang udah ngegampar yuleni!!!!
Yuleni angkatan 2010, alhamdulillah dapat bidik misi juga di Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung. Sekarang yuleni lagi nyusun skripsi dan hampir putus asa dalam ngenyusunnya, tapi pas baca cerita siti, yuleni jadi keingetan "semangat yang ga tau malu" pas masa-masa perjuangan supaya bisa kuliah dulu, dan seharusnya sekarang yuleni harus lebih semangat lagi dalam berjuang supaya bisa lulus kuliah tepat waktu dan segera mengabdi ke masyarakat.
Sekali lagi Yuleni ucapkan terimakasih.
Semoga suatu saat Allah memperkenankan yuleni bisa bersilaturahmi ke siti.
Aamiin.

absoluteciremailinggasana mengatakan...

mrinding bacanya,, thank for sharing

Indri Yani mengatakan...

subhanallah,, sangat menggetarkan hati,,,

Nur Jannati mengatakan...

Sungguh membanggakan. . .
Tetap semangat Mba, Suksees slalu, Amin

insan maulina mengatakan...

subhanallah.. saya jadi ingat ketika dulu meminta kuliah ke orang tua, abah ku bilang "tak ada orang tua yang tak ingin menyekolahkan anaknya setinggi2nya" dan beliau benar2 mewujudkannya...
itulah hebatnya orang tua, akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk anak2nya..
trimakasih dik untuk mengingatkan ku pada masa2 itu, agar aku kembali bersemangat untuk melanjutkan mengerjakan skripsiku yang terbengkalai.
tetap semangat dik.. semoga kita di beri kesuksesan dunia dan akhirat. amiin...

Rizki Yuningsih mengatakan...

Subhanallah..semoga semakin banyak Siti Horiah-Siti Horiah lain yang lahir di negri ini.

pradipta muhamad mengatakan...

saya kagum , sangat menginspirasi

sbr_odin mengatakan...

Selamat yaa mbak... tetap fokus... jgn tergoyahkan oleh pergaulan dlll suatu hari saya berharap bisa bertemu sama kamu.... salut

yuni mengatakan...

hebat! tetap gigih yaa!

Bobby Suryadharma mengatakan...

Subhanallah. Smoga slalu diRahmati oleh Allah swt. Aamiin

Istiqamah mengatakan...

Subhanallah,,,
didoakan cumlaude dan bisa merubah ekonomi keluarga ya dek :D

laskar pelangi mengatakan...

Subhanallahu...terharu, berkaca-kaca menahan air mata membaca kisah nyata ini. Barakallahu ya dek, smg Allah senantiasa meneguhkan dan meninggikan derajat mu dan org2 yg senantiasa bersyukur, masih punya mimpi dan terus berusaha sambil berdoa

ngkun mengatakan...

Kabiogama membaca ini sangat inspiratif...
mohon ijin sharing buat anak didik kami yang lagi menghadapi UN dan menunggu hasl SNMPTN juga

Robith Muchammad Jibril Arijuddin mengatakan...

Subhanallah..
Begitu banyak pelajaran yg disampaikan oleh mbak Siti Hoiriyah...
Saya juga salah satu penerima BidikMisi di ITS, salam kenal Robith D3MesinITS..
Ijin Share buat berbagi di Group BidikMisi ITS..
^_^

little dabelyu mengatakan...

Subhanallah... Allah Maha Adil. Allah Maha Melihat&Mendengar. Allah Tidak Pernah Tidur...
Aku merinding. Mimpi yang bukan sekedar mimpi. Aku pengen jadi kakak yang semangatnya gak pernah pudar sekalipun mendengar hinaan&cacian&makian. Hebat kak! Salut! Semoga aku juga mampu masuk UGM dengan cerita yang mengharukan serta membanggakan. Aamiin. Sukses terus kak!

Fiqkri Aprija mengatakan...

sangat menyentuh .........???

ini lah yg nama@ khidpan , kta blom tau apa yg terjadi pda dri kta nanti........???

#jangan kta sia2 kan #

Rizki Putri Nurita F mengatakan...

selamat kawan!!!!!!
:D
semoga kau sellau mendapatkan dan memberikan yang terbaik,amiiiin

Ayu Anggraini mengatakan...

Subanallah .. semoga selalu diberikan kemudahan dan keberkahan ya :)
sangat menginspirasi ..
semoga makin dekat sama Allah ya :)

antika atsna mengatakan...

hebat kakak...
^^
semangat kakak
^^

suka...
suka bnget baca kisahnya...

menambah semangat belajar....
^^

doakan mimpi ku juga akan tercapai seperti kakak siti horiah

Admin mengatakan...

subhanallah, terharu bacanya,,,

Ria Prasetyo mengatakan...

Semangat siti,. kamu pasti jadin orang besar nanti,. subhanallah, kamu adalah inspirasi kita semua,. tetap semangat ya,. sepertinya kisahmu ini dibukukan akan sangat bermanfaat.

Dien Zakiyyah mengatakan...

Cerita ini 'terbang' sampai ke kampus saya, sebagai sesama mahasiswa saya merasa sedih dan malu karena baru kali ini terketuk oleh cerita seperti ini. Selama ini sering kali saya (dan beberapa orang lainnya mungkin) kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya.
Semangat terus, Siti :)

Regards,
Dien Zakiyyah
Ilmu Komunikasi 2011 - Hubungan Masyarakat
Universitas Indonesia
@dienzakiyyah
dienzakiyyah@ui.ac.id

GO Healt mengatakan...

Sungguh sebuah cerita yang menajubkan . . . keren(y)
Salut buat Siti...

Casilda Aulia Rakhmadina mengatakan...

Terimakasih ceritanya sangat menginsiprasi saya kak :)
Sepertinya kata-kata Man Jadda Wajada memang benar-benar manjur. Tetap semangat ya kak :)

nuriyatin's blog mengatakan...

Subhanallah...
Semangat:)

Hempi Bahtiar mengatakan...

Subhanallah...
Sampai merinding membaca cerita ini.
Semoga dengan jalan ini bisa mengangkat keluarga dari kesusahan. Buktikan bahwa mimpi itu kan menjadi nyata, banggakan orang tua dan orang2 yang kamu sayangi. :)

salam kenal

BrataSmaga mengatakan...

Semoga ada yang memberi beasiswa

Chandra H. Wijaya mengatakan...

Kisah Jos Gandos

fajarr ramadhan mengatakan...

kamu pantas mendapatkannya
aku yakin semua bergetar saat membaca ini
karena akupun demikian
dari mimpi
apa yg kita lakukan atau ada skg
ya awalnya mimpi

Ika Rochmawati mengatakan...

subhanallah...
rasanya malu diri ini mbak,
sukses terus ya mbak, semoga selalu dapat menginspirasi,
Salam kenal. Ika UNESA :)

Nailul Manshuroh mengatakan...

subahanallah,,, salut sama mbak siti....
semoga Allah selalu memberkahi jalan mbak siti.. aamiin

regina damayanti mengatakan...

Tuhan akan selalu menyertai segla usaha terbaikmu mbakk..
tetap berdoa berusaha dan tawakal..
salam kenal Regina - POLINEMA
:)

Diana Roosevelt mengatakan...

Luar biasa perjuangannya, tetap semangat adek.:)

Galih Nugraha mengatakan...

Allahuakbar,, Allah memang maha besar,, malunya saya yang tidak pernah bisa menghargai kesempatan seperti anda,, :-) ,, jadikanlah kami generasi penerus bangsa yang bermanfaat bagi orang bnyak ya Allah

Cindar mengatakan...

WOW.. Luar biasa..
Jika suatu hari anda berhasil semoga anda menjadi pembebas negeri ini dari segala sesuatu yang kurang baik.. diluar sana masih banyak yang berjuang seperti anda namun tidak kunjung mendapatkan kesempatan..
Saya sudah sering mendengar mereka2 yang berjuang dan berhasil akhirnya malah justru berpaling dari negerinya.. saya maklum hidup di negeri ini memang berat namun jika bukan orang2 seperti anda siapa lagi yang akan memperjuangkan..
Saya doakan anda selalu dalam lindugan Alloh..

swesty endeka mengatakan...

salam gamadiksi :)
saya juga mahasiswa bidikmisi, tapi di UNIVERSITAS SUMATERA UTARA..
perjuangan anda trnyata jauh lebih berat dripada apa yang saya alami.. Semangat teruss ya kawan..

salam :)

Matsani mengatakan...

smoga sukses y siti, trus banggakan kedua org tua, jgn lupa ttp bersyukur y

Wahyu Kikiyu mengatakan...

Dream, Believe, and Make it happen..

ARIS TRI BAHTIAR EFENDI mengatakan...

Subhanallah,
terharu banget baca ini. semangat ya..

ahmad syafei mengatakan...

subhanallah mmg Allah maha melihat kan hambannya saya sampe terharu membacanya terimakasih atas inovasinya smgt

Nilam dQueen mengatakan...

sangat menginspirasi.. subhanallah..

Hasrul Bima mengatakan...

masa Allah,,cita2 yang mulia,, berdiri kokoh dengan melihat kondisi ekonomi orang tua yang kurang... membuat kamu lebih bijak untuk berfikir..amin..kami akan selalu mendoakan semoga kamu menjadi orang yg membawa nama bangsa ke kanca internasional.

Arif Fajar Nasucha mengatakan...

gila banget deh..
sumpah keren..
preman2 kampus harus baca ini.
biar bisa nangis..
huehuehue

Enggar Tri Lestari mengatakan...

Subhanallah,
sampai merinding bacanya&mau nangis, sangat inspiratif..
Mbak siti memang hebat !
Membuat aku lebih berstukur, tak ada yg tak mungkin jika Allah berkehendak.

Salma Keant mengatakan...

Kartini masa kini. :) terus semangat meraih mimpi

Fuady Hasan mengatakan...

allah menjawab doa orang yang mau berdoa n berusaha...
semangat untuk trus berdoa n berusahaa..

Riki Ardi mengatakan...

Subhanallah...la hawlawalaquwataila billah...

Bram Styawansupiadi mengatakan...

semoga kita dapat meniru semangatnya...

trims
kisah inspiratifny,

Neng Fauziya mengatakan...

Subhanallah...,erindiiing bacanya.salut bgt.moga terus dimudahkan jalannya mmberi manfaat melalui ilmu ya..amiin

anusabrata mengatakan...

aslmkm,, setelah saya baca cerita anda sampai masuk Teknik Nuklir UGM, anda hebat. dan semoga kedepannya anda mempunyai semangat juga untuk memperbaiki dunia ini menjadi lebih baik. wlkmslm wr.wb.

faiq furqon mengatakan...

INDONESIA MANUSIA NYA KAYAK INI SEMUA PASTI TIDAK TAU YANG NAMA NYA KORUPSI ATAU SEGALANYA YG TERBURUK BUAT NEGARA INDONESIA INI.
MAJU TERUS MBAK SITI....

Vinsca Novanda mengatakan...

SITI HORIAAAH teman satelit BEM-KM UGM ku yang paling baikkk. aku gak menyangka kalo kehidupanmu spt itu dahulu :(. beda skali saat aku melihat mu dlm keseharianmu yg ceri, ternyata kamu mempunyai masalah yang segitu rumitnya. jujur saat aku negeliat tulisanmu itu aku langsung nangis dan tersadar bahwa aku harusnya benar2 harus bersyukur kpd allah bahwa aku mempunyai orang tua yang bnr2 super dan slalu memenuhi kebutuhanku secara maksimal. slama ini aku slalu nuntut macem2 kpd org tua ku sampai terkadang aku egois skali tdk memikirkan bagaimana usaha mereka untuk mencapai segala kebutuhan aku. trimakasih siti skali lagi, tulisanmu kini telah membangkitkan smangat aku untuk bs terus berprestasi lebih di bangku kuliah. di bangku UGM. dan aku janji bakal bawa nama baik org tuaku, UGM, dan semua org yg aku sayangi bangga kpd ku :)

effazataka mengatakan...

semangat brow

rini redone mengatakan...

subhanallah kisah ini sangat menginspirasi saya dan membuat saya menginstropeksi diri untuk menjadi orang yang lebih bersyukur .....semoga perjuangannya slalu diberi kesuksesan dunia akhirat..semangatttttt sitt...:)

imam cungkring mengatakan...

kisah inspiratif,,dari kenyataan,,
subhanallah

maisyara salsabila mengatakan...

subhanallah,,,
cerita nyata menginspirasi kami kami yang punya mimpi,,,

Amri Bisa mengatakan...

Semangat yang luar biasa dari seorang gadis remaja.
salut! semoga Allah selalu bersama anda

Cjhesan mengatakan...

Terimakasih untuk kisah yang begitu inspiratif..
Sukses selalum, Tuhan memberkati :)

nurwahidin.com mengatakan...

Semangat dan terus berjuang ya, sukses selalu...

giffy ouch! mengatakan...

Ente ini mau komen kisah ini, apa mau numpang tenar? Klo mau bikin kisah sendiri, di tempat laen om...kok malah narsis gitu, weleh2...

agus yuliyanto mengatakan...

genggam duniamu!!!!

bangun kristiana mengatakan...

mimpi adalah sosok motivasi dalam hidup...

setelah ini...setelah apa yang didapat..

bahagiakanlah kedua orang tua....dan keluarga

Teguh Gw mengatakan...

congratulations! man jadda wajada. hadza min fadhli Rabbi. semoga Allah jada Ananda dari sikap dendam kpd orang2 yg dulu "menertawakan" Ananda. Tampaknya mereka menghina Ananda, padahal mereka diutus oleh Sang `Arif untuk memompa semangat jihad Ananda. Sukses ...

dizcHey arGiyANtoro mengatakan...

.sempurna banget... ∂ķΰ..cman mmbca saja bisa nagis,sedih pa lagi ...knytaan....yang pasty anank itu pasty akan bermakna pada dunia ini....good luck....

masdarat mengatakan...

selamat, jalanmu masih panjang, tapi sudah kau mulai dengan baik, sangat baik. Semangat!!

Nabila Tuffahati mengatakan...

tetap semangat kak siti, aku ingin semangatku seperti kakak :)

Poskan Komentar

 

© Copyright SCCF UGM 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by SCCF UGM.